Archive for December, 2005

Wajah Kejujuran

Monday, December 12th, 2005

Sleep_1

Pernahkah anda menatap wajah orang-orang terdekat anda saat mereka sedang  tidur?
Kalau belum, cubalah sekali saja menatap mereka saat mereka sedang
tidur. Pada saat itu adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari
seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan
hebat tapi akan jadi akan nampak biasa dan jauh berbeza jika ia sedang
tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia tidur sudah tak akan
tampak wajah bengisnya Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur.

Sedarilah, betapa badan yang dulu kuat dan gagah itu kini semakin tua
dan lemah, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa
kerutan mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja
keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inlah rela
melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar
dan berjaya.
Sekarang, Lihatlah ibu anda. Hmm.. kulitnya mulai keriput dan tangan
yang dulu halus membelai-belai tubuh kita ketika masih bayi kini
bertukar kasar. Orang inilah yang tiap hari mengurus keperluan kita.
Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan membebel kita
semata-mata kerana rasa kasih dan sayangnya itu sering kita salah
ertikan.

Cubalah menatap wajah orang-orang tercinta itu : Ayah, Ibu , suami ,
isteri, kakak, adik, anak, sahabat, semuanya. Rasakan sensasi yang
timbul sesudahnya. Rasakan kuasa cinta yang mengalir perlahan-lahan di
saat menatap wajah mereka yang terlelap itu. Rasakan getaran cinta yang
mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah
dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang
kadang dilupakan oleh kesalahan kecil yang entah kenapa selalu saja
nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu boleh di nampakkan
lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan
yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. dan Ekspresi
wajah ketika tidur pun mengungkapkan segalanya. Tanpa kata, tanpa suara
dia berkata : " betapa lelahnya aku hari ini." dan penyebab lelah itu ?
Untuk siapa dia berlelah-lelahan? Tak lain adalah suami yang bekerja
keras mencari nafkah dan isteri yang bekerja mengurus dan mendidik
anak, juga rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan
hari-hari suka dan duka bersama kita.